Selasa, 10 November 2015

Pahlawan Yang Terabaikan...

10 November 1945 tepatnya 70 Tahun lalu, Peristiwa Pertempuran Surabaya antara para tentara dan milisi Indonesia yang pro-kemerdekaan yang berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda yang merupakan bagian dari Revolusi Nasional Indonesia. saat itu awal dari momentum yang paling sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan sejahtera. melawan Kaum Penjajah yang hendak menghancurkan kedaulatan dan kesejahteraan rakyat di Negeri ini menjadi suatu catatan sejarah yang tak akan pernah dilupakan bahkan dikesampingkan begitu saja hingga detik ini. sebuah perlawanan atas penindasan yang terjadi menjadi tugas kita sebagai bangsa yang berdaulat. bukan saja berjuang untuk sebuah belenggu atas kemerdekaan yang menjadi hak sebuah bangsa yang besar, melainkan perjuangan atas penjajahan yang dilakukan oleh sebuah sistem pemerintahan pada sebuah negara yang sudah merdeka dan besar sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. sistem Imprealisme yang semakin lama semakin mencoba berbagai cara baru untuk tetap eksis di sebuah Negara yang kaya SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber Daya Manusia). 

Penghisapan dan Penjajahan yang mereka lakukan tiap menit-nya merenggut korban-korban dari rakyat Indonesia yang sangat memprihatinkan. rakyat Indonesia semakin hari semakin kritis saja, rakyat Indonesia semakin hari semakin sengsara saja, dan rakyat Indonesia semakin hari semakin mengenaskan saja. bukan karena Indonesia sudah kehilangan Pahlawan-pahlawan tangguh-nya, melainkan karena Pahlwan-pahlawan Indonesia kini seakan sudah semakin tersingkirkan dan semakin terlupakan akibat kalah pamor dengan eksistensi sebuah sistem kotor Imprealisme. semua semakin terasa begitu mengenaskan kala Tuan-tuan Tanah semakin serakah atas rakyat-rakyat yang tidak punya tanah. walau semua sudah diatur secara tegas dalam UU No. 5 Tahun 1960 (UU Pokok Agraria), bahwa setiap orang hanya diperbolehkan memiliki hak atas tanah untuk Luas tanah yang sudah ditentukan dan untuk jenis tanah yang sudah ditentukan pula. artinya bahwa sudah menjadi sebuah pelanggaran hukum apabila seseorang mempunyai hak milik atas tanah melebihi dari Luas kepemilikan hak atas tanah yang sudah ditentukan sebelumnya. namun, sekali lagi Indonesia masih menjadi Negara yang paling sulit untuk menemukan keadilan dan kepastian hukum. itulah mengapa Feodalisme masih saja merajalela di Negara tercinta ini, dan mungkin masih akan membudaya untuk jangka waktu yang sangat lama. 

Satu hal yang pasti bahwa Negara ini sebenarnya mempunyai begitu banyak Pahlawan di berbagai sektor kehidupan. mulai dari Buruh Tani, Petani, Buruh, Guru, sampai kepada pengusaha-pengusaha kecil yang harus berjuang melawan pengusaha-pengusaha sekelas Kapitalis. banyak rakyat indonesia yang sangat berbakat dalam bercocok tanam harus menjadi buruh tani di negeri ini karena memang mereka tak punya tanah untuk diolah sendiri, banyak sekali bakat-bakat pengusaha di negeri ini yang harus kalah bersaing dengan Kapitalis-kapitalis saat seseorang yang berbakat tersebut tak punya modal untuk berjuang maju dan bersaing dengan pengusaha-pengusaha sekelas kapitalis, banyak juga petani-petani di desa sana yang punya tanah namun kurang pengetahuannya mengenai cara bertani yang baik dan benar akibat kurangnya pendidikan di desa tersebut, atau mungkin saja karena terbatasnya pupuk yang dapat dibeli oleh petani-petani yang tak bermodal tersebut, dan banyak juga buruh yang harus bekerja keras siang dan malam pada suatu perusahaan besar milik Kapitalis Komprador, yang meskipun ia mempunyai keahlian yang luar biasa dalam mendukung proses produksi perusahaan tersebut namun ia tetap saja di bayar murah, serta banyak juga Guru yang harus mengajar lebih dari 12 jam dalam seminggu namun hanya dibayar dengan seadanya saja sementara para anggota Parlemen yang duduk di pemerintahan sana hanya duduk di kantornya yang ber-AC dan mendapat gaji luar biasa yang tentunya sangat membuat kita harus geram dengan kenyataan yang selalu tak berbanding lurus dengan perbuatan seseorang.



Kondisi tersebut diatas tentu memperlihatkan kepada kita bahwa sebenarnya begitu banyak Pahlawan yang luar biasa di Negeri ini. namun kemana mereka? pertanyaan tersebut bukan untuk mempertanyakan mengenai keberadaaan mereka di negeri ini, namun tentang mengapa mereka harus terlupakan dan terabaikan di negeri ini? mengapa mereka hanya menjadi sampah masyarakat di negeri yang seoalah-olah harus disingkirkan dari negeri tercinta ini? mereka yang tak pernah berbuat sesuatu-lah yang seharusnya dilupakan dari negeri ini. tak peduli apa jabatan yang sedang disandang, tak peduli sebanyak apa uang yang ada dikantong, dan tak peduli sebanyak apa dia mengeluarkan kata-kata manisnya untuk mengelabuhi setiap orang. namun, yang pasti adalah sebanyak apa ia berbuat untuk negeri ini tanpa harus berdebat mengenai sesuatu kebenaran yang sudah terlihat walau tak dicari, suatu kebenaran yang tak seharusnya diperdebatkan karena sebenarnya kebenaran bukan soal kata-kata melainkan sebuah realitas perbuatan. 

Pahlawan yang terlupakan haru berbesar hati di negeri ini, yang sejatinya akan tetap dikenang selalu sampai akhir dari eksistensi sebuah negara. pahlawan yang seharusnya menjadi pilar dari sebuah perubahan dalam sebuah negara harus menjadi penonton setia dalam sebuah negara sembari menanti kapan negara tersebut tenggelam dan meminta bantuan mereka yang sudah sekian lama terlupakan bahkan nyaris tak saling mengenal. ya, begitulah terkadang pahlawan di negeri ini! kalau saja hari ini semua calon-calon pahlawan yang hidup dalam jiwa-jiwa muda menyadari akan peran mereka kelak, maka hari ini pahlawan-pahlawan kecil tersebut akan bersatu dan berjuang sedari kini untuk melawan 3 Musuh Rakyat (Imprealisme, Feodalisme, Kapitalisme Birokrat). . .

#HiduplahPahlawanIndonesiaYangTerlupakan
#SalamDemokrasi
#BangkitBerjuangDanMelawan

Sabtu, 24 Oktober 2015

Hati Yang Telah Di Abdikan Kepada Rakyat

Jauh di ufuk timur sana, matahari seolah datang dengan memberikan senyuman terindahnya kepada kami para pencari keadilan dan kesejahteraan di negeri ini. banyak yang frustasi ketika tak berjumpa dengan keadilan, banyak yang mengeluh atas ketidakadilan, dan banyak juga yang tak mengerti tentang apa itu keadilan. mereka lalu berlomba-lomba untuk mencari kesejahteraan dan menganggap bahwa itu adalah keadilan bagi mereka. saat mereka sejahtera, mereka fikir itu adalah keadilan yang sejati tanpa harus melihat kanan kiri, depan belakang serta atas bawah. tak banyak yang tahu dari mana semua kesejahteraan yang diperolehnya tersebut, karena yang lain juga sibuk dengan usahanya untuk menemukan kesejahteraanya masing-masing. begitulah gambaran dari sebuah sistem petak umpet di negeri ini, yang mampu membuat rakyat di negeri ini sibuk kesana kemari untuk mencari keadilan bagi dirinya sendiri, mencari kesejahteraan bagi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan orang lain dan tak akan pernah mau memikirkan orang lain. 

Lalu ketika seorang pejalan kaki berkata kepada seorang pengusaha, "bolehkah saya memberi saran kepada anda terkait perusahaan dan bisni yang anda jalankan?", lalu dengan santai si pengusaha menjawab "hingga saat ini perusahaan saya sedang baik-baik saja, dan apabila sedang dalam kondisi yang kurang baik, saya punya konsultan ekonomi yang handal dan dalam beberapa hari pasti akan kembali normal". tak dapat dipungkiri memang akan seperti itu realitas yang terjadi di negeri ini. aku bahagia bukan karena orang lain, dan begitu juga sebaliknya. pertanyaannya siapa kita saat ini? siapa kita sebenarnya? benarkah seperti ini kita seharusnya? haruskah kita menjadi orang yang egois? dimana semua nilai-nila pancasila kita yang begitu luar biasa itu? sudahkah kita tak punya belas kasihan lagi  kepada saudara-saudara kita yang tak seberuntung kita?

Sistem Imprealisme telah membutakan negeri ini, bahkan para pemimpinnya sudah mengabdikan diri mereka kepada para tuan-tuan Imprealis dan Kapitalis-kapitalis Komprador. mereka tidak lagi mengabdikan diri mereka kepada rakyatnya, karena mungkin rakyat indonesia sudah tak berharga lagi bagi mereka. hal yang paling menarik lagi adalah ketika pesta demokrasi di negeri ini berlangsung, mereka yang ingin menjadi penguasa di negeri ini saling sikut menyikut untuk mendapatkan kepercayaan rakyat agar memilih mereka. dan berbagai atraksi menarik dan mengharukan sekaligus menarik simpatik rakyat terus dipertunjukkan kepada rakyat. Jokowi-JK misalnya, sosok pemimpin yang katanya "populis" dan "merakyat" ternyata masih juga mengabdi kepada Imprealis hingga setiap detik ia duduk di kusri pemerintahan, pasti banyak korban (rakyat) yang berjatuhan. 

Sungguh, terkadang kami (FMN Ranting UNIKA's Squad) berfikir bahwa apakah kami yang selama ini berjuang dan mengabdi kepada rakyat harus menyerah? karena negara ini toh masih memelihara budak-budak Imprealis yang semakin lama semakin menyiksa rakyat. jawabannya tentu "tidak akan pernah menyerah" sebelum sebuah perubahan sejati itu terjadi. kami memulai dari diri kami sendiri dan orang-orang di sekeliling kami, kami selalu mencoba untuk mengkampanyekan setiap analisis kammi terkait setiap fenomena yang terjadi di negeri ini agar setiap rakyat yang melihat tersadar lalu bangkit dan melawan setiap penjajahan yang terjadi. 

Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin! karena kami yakin bahwa Perubahan Sejati Adalah Karya Berjuta Massa, dan setiap hal yang kami perjuangkan semua atas satu impian "Demokrasi Nasional". dan setiap zaman pasti punya cerita, hingga kemudian setiap zaman pasti punya akhir yang juga berbeda, dan kami percaya zaman penjajahan modern saat ini menjadi zaman dimana kami harus bangkit bersama dengan jutaan rakyat untuk melawan semua penindasan dan penjajahan. karena kami yakin bahwa "Perubahan Adalah Karya Berjuta Massa". 

Bila seorang pemimpin perang sudah menyerah sebelum berperang, maka mau tidak mau rakyatnya yang harus turun berperang. karena mungkin pemimpin perang sudah memerintahkan kepada prajurit yang lain untuk mundur, maka inisiatif rakyat untuk bangkit dan mengambil alih perjuangan harus dilakukan untuk sebuah kemenangan sejati yang sudah lama menjadi impian dan cita-cita bersama. sungguhpun harus gugur di medan perang bukanlah menjadi permasalahan daripada harus diam, menunggu dan bersekutu dengan lawan. karena hari ini bukanlah lagi momen untuk meraih kemenangan sendiri, melainkan meraih kemenangan bersama. kemenangan bersama adalah kemenangan yang tak akan pernah retak dan tak akan pernah bisa disangkal oleh siapapun juga. bangkit bersatu bersama rakyat untuk berjuang melawan 3 musuh rakyat. Junk IMPREALISME, FEODALISME, KAPITALISME BIROKRAT !!!

#SalamDemokrasi
#JayalahPerjuanganMassa