Sabtu, 24 Oktober 2015

Hati Yang Telah Di Abdikan Kepada Rakyat

Jauh di ufuk timur sana, matahari seolah datang dengan memberikan senyuman terindahnya kepada kami para pencari keadilan dan kesejahteraan di negeri ini. banyak yang frustasi ketika tak berjumpa dengan keadilan, banyak yang mengeluh atas ketidakadilan, dan banyak juga yang tak mengerti tentang apa itu keadilan. mereka lalu berlomba-lomba untuk mencari kesejahteraan dan menganggap bahwa itu adalah keadilan bagi mereka. saat mereka sejahtera, mereka fikir itu adalah keadilan yang sejati tanpa harus melihat kanan kiri, depan belakang serta atas bawah. tak banyak yang tahu dari mana semua kesejahteraan yang diperolehnya tersebut, karena yang lain juga sibuk dengan usahanya untuk menemukan kesejahteraanya masing-masing. begitulah gambaran dari sebuah sistem petak umpet di negeri ini, yang mampu membuat rakyat di negeri ini sibuk kesana kemari untuk mencari keadilan bagi dirinya sendiri, mencari kesejahteraan bagi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan orang lain dan tak akan pernah mau memikirkan orang lain. 

Lalu ketika seorang pejalan kaki berkata kepada seorang pengusaha, "bolehkah saya memberi saran kepada anda terkait perusahaan dan bisni yang anda jalankan?", lalu dengan santai si pengusaha menjawab "hingga saat ini perusahaan saya sedang baik-baik saja, dan apabila sedang dalam kondisi yang kurang baik, saya punya konsultan ekonomi yang handal dan dalam beberapa hari pasti akan kembali normal". tak dapat dipungkiri memang akan seperti itu realitas yang terjadi di negeri ini. aku bahagia bukan karena orang lain, dan begitu juga sebaliknya. pertanyaannya siapa kita saat ini? siapa kita sebenarnya? benarkah seperti ini kita seharusnya? haruskah kita menjadi orang yang egois? dimana semua nilai-nila pancasila kita yang begitu luar biasa itu? sudahkah kita tak punya belas kasihan lagi  kepada saudara-saudara kita yang tak seberuntung kita?

Sistem Imprealisme telah membutakan negeri ini, bahkan para pemimpinnya sudah mengabdikan diri mereka kepada para tuan-tuan Imprealis dan Kapitalis-kapitalis Komprador. mereka tidak lagi mengabdikan diri mereka kepada rakyatnya, karena mungkin rakyat indonesia sudah tak berharga lagi bagi mereka. hal yang paling menarik lagi adalah ketika pesta demokrasi di negeri ini berlangsung, mereka yang ingin menjadi penguasa di negeri ini saling sikut menyikut untuk mendapatkan kepercayaan rakyat agar memilih mereka. dan berbagai atraksi menarik dan mengharukan sekaligus menarik simpatik rakyat terus dipertunjukkan kepada rakyat. Jokowi-JK misalnya, sosok pemimpin yang katanya "populis" dan "merakyat" ternyata masih juga mengabdi kepada Imprealis hingga setiap detik ia duduk di kusri pemerintahan, pasti banyak korban (rakyat) yang berjatuhan. 

Sungguh, terkadang kami (FMN Ranting UNIKA's Squad) berfikir bahwa apakah kami yang selama ini berjuang dan mengabdi kepada rakyat harus menyerah? karena negara ini toh masih memelihara budak-budak Imprealis yang semakin lama semakin menyiksa rakyat. jawabannya tentu "tidak akan pernah menyerah" sebelum sebuah perubahan sejati itu terjadi. kami memulai dari diri kami sendiri dan orang-orang di sekeliling kami, kami selalu mencoba untuk mengkampanyekan setiap analisis kammi terkait setiap fenomena yang terjadi di negeri ini agar setiap rakyat yang melihat tersadar lalu bangkit dan melawan setiap penjajahan yang terjadi. 

Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin! karena kami yakin bahwa Perubahan Sejati Adalah Karya Berjuta Massa, dan setiap hal yang kami perjuangkan semua atas satu impian "Demokrasi Nasional". dan setiap zaman pasti punya cerita, hingga kemudian setiap zaman pasti punya akhir yang juga berbeda, dan kami percaya zaman penjajahan modern saat ini menjadi zaman dimana kami harus bangkit bersama dengan jutaan rakyat untuk melawan semua penindasan dan penjajahan. karena kami yakin bahwa "Perubahan Adalah Karya Berjuta Massa". 

Bila seorang pemimpin perang sudah menyerah sebelum berperang, maka mau tidak mau rakyatnya yang harus turun berperang. karena mungkin pemimpin perang sudah memerintahkan kepada prajurit yang lain untuk mundur, maka inisiatif rakyat untuk bangkit dan mengambil alih perjuangan harus dilakukan untuk sebuah kemenangan sejati yang sudah lama menjadi impian dan cita-cita bersama. sungguhpun harus gugur di medan perang bukanlah menjadi permasalahan daripada harus diam, menunggu dan bersekutu dengan lawan. karena hari ini bukanlah lagi momen untuk meraih kemenangan sendiri, melainkan meraih kemenangan bersama. kemenangan bersama adalah kemenangan yang tak akan pernah retak dan tak akan pernah bisa disangkal oleh siapapun juga. bangkit bersatu bersama rakyat untuk berjuang melawan 3 musuh rakyat. Junk IMPREALISME, FEODALISME, KAPITALISME BIROKRAT !!!

#SalamDemokrasi
#JayalahPerjuanganMassa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar